jurus golok ipsi

Sikap pasang

Posted on

Sikap pasang mempunyai pengertian sikap taktik untuk menghadapi lawan yang berpola
menyerang atau menyambut, dimana bila ditinjau dari sistem beladiri, “pasang” berarti kondisi siap tempur
yang optimal. Pada pelaksanaanya, sikap pasang merupakan kombinasi dan koordinasi kreatif dari kuda-kuda, sikap
tubuh dan sikap tangan serta meliputi sikap berbaring, duduk, jongkok, dan berdiri. Sikap pasang merupakan gerakan statis dari gerakan pencak silat. Dengan membentuk sikap pasang, pesilat mengekspresikan status siaga dan waspada yang sewaktu-waktu dapat diubah melaksanakan tindakan taktis tertentu. Saat melakukan serangan pesilat harus berpola dari sikap “pasang” atau siap tempur sebagai sikap taktik bertanding, kemudian melangkah dengan terpola, serta koordinasi yang baik dalam melakukan serangan dan belaan. Setiap selesai melakukan serangan pesilat harus kembali dalam sikap “pasang”, disebut dengan kaidah

dalam pencak silat. Kaidah teknik ini membedakan pencak silat lain dengan beladiri seperti tinju, yudo, karate,
teakwondo, gulat dan lain-lain, serta menjadikannya sebagai perwuju dan yang khas dari kebudayaan melayu, khususnya kebudayaan Indonesia. Saat melakukan serangan harus tersusun dengan teratur dan berangkai dengan berbagai cara kearah sasaran sebanyak-banyaknya 4 jenis serangan. Apabila rangkaian serang bela lebih dari4 jenis serangan, maka akan dihentikan
oleh wasit. Penetapan 4 jenis serangan didasarkan atas filosofi, menurut O’ong Maryono (1998: 252) bahwa manusia terbentuk dari campuran empat anasir yang terkandung dalam makrokosmos yaitu api (agni), bumi (bawon), angina (bayu), dan air (tirta). Pandangan kejawen keempat anasir ini merupakan saudara gaib dari setiap orang seperti tercantum dalam ucapan “sedulur papat, lima pancer” yang berarti saudara empat, lima diri sendiri. Seirama dengan anasiranasir ini juga, manusia memiliki empat perwujudan nafsu (patang pratara) yaitu berupa amarah (kemarahan), luwanah (suka minum), supiyah (nafsu birahi), dan mutmainah (rasionalitas duniawi).